lagu kanak2 di Indonesia :
Naik kereta api ... tut ... tut ... tut
Siapa hendak turut
Ke Bandung ... Surabaya
Bolehlah naik dengan percuma
Ayo temanku lekas naik
Keretaku tak berhenti lama
Percuma mempunyai dua arti : (ajektiva) 1. tidak ada gunanya; sia sia 2.cuma cuma;gratis (dari KBBI = Kamus Besar Bahasa Indonesia)
....
Dia merasa kecewa dan terasing melihat kenyataan dalam hidupnya ini, betapa di atas slogan-slogan peradaban Barat tentang kemanusiaan universal, dengannya tampak juga menyolok "kosokbali" pemiskinan atasnya di bawah sentimen kebangsaan yang telah menyebabkan berlangsungnya perang di tahun-tahun terakhir ini. (hal 5)
"kosokbali" berasal dari bahasa jawa n (nomina) 1.lawan; kebalikan; 2. kata yang maknanya berlawanan atau berkebalikan dengan kata lain. (KBBI)
Thursday, 16 January 2014
Monday, 28 October 2013
Mengikuti Kongres Puisi Dunia di Ipoh Malaysia
My Day
adalah puisi pertama saya dalam bahasa
Inggris dan dimuat pada buku Anthology of the 33 World Congress of Poets, yang Co-Editor nya Malin Ghozali PK dari Malaysia dan Georges Chapouthier dari
Perancis memuat puisi para penyair
seluruh dunia lebih dari 30 negara diantaranya dari : Indonesia,
Singapore, Malaysia, Brunei, China, Taiwan, Colombia, French, Germany, Japan, Marroko,
Mexico, Korea, USA, Dermark, Argentina, Czech Republic, Slovak Republic, United
Kingdom. Hal yang membuat
saya tersanjung puisi saya juga di “quote/di
petik” dan muncul disampul buku depan
bersama dengan puisi-puisi kawan2 yang lain.
Saya juga
diberi kesempatan membacakan puisi ini
Pada hari Senin 21 October 2013 pada saat kami para participant Kongres Puisi
Dunia (33rd World Congress of Poets yang diadakan di Ipoh 20-26
October 2013) Mengunjungi PORT (People of Remarkable
Talents) dan membaca puisi di panggung yang sudah disediakan dan pada tanggal
24 oct 2013 sekali lagi saya membaca kan Puisi di Kampung Jahang sebelum kami, para peserta, tour
ke Gua Tempurung.
Selesai
membaca puisi di PORT, seorang wartawan dari surat kabar arus perdana, Utusan
Malaysia mewawancarai saya. Yang wawancaranya keesokannya langsung dimuat di
Surat Kabar Utusan Malaysia lengkap dengan foto saya dan foto peserta dari Jepang Toshie Tai, President 32 nd The World Congress of Poets WAAC-Calligraphy
Institute in Japan yang pada saat ini membuka booth
Kaligraphi dari Jepang di acara Kongress yang pertama kali diadakan di Pilipina 44tahun
yang lalu ini. Foto peserta lain nya di
surat kabar arus perdana ini adalah Marie Robert, dari Perancis seorang artist,
choreographer, writer yang pada saat acara sering menampilkan tarian klasik
yang cukup memukau.
Setelah saya
beritahu dan memperlihatkan artikel dan foto2 mereka yang dimuat di surat kabar
melalui ipad, mereka sangat antusias ingin melihat dan
memiliki versi cetaknya sayang sekali
saya juga baru tahu malam hari sehingga tidak bisa mendapatkan Utusan versi cetaknya. Saya
menjajikan kepada Toshie Tai dan Marie Robert akan mengirimkan link surat kabar
Utusan yang memuat photo2 mereka dan saya akan menterjemahkan artikel nya dalam
bahasa Inggris untuk mereka dan nanti akan saya kirim melalui email.
Thursday, 30 May 2013
Puisi "Minangkabau Malaysia" Dibacakan Dalam Hari Puisi Nasional
Written by Dra. Hjh. Lily Siti Multatuliana, M.A
Kuala Lumpur, (ANTARA KL) - Sejak tahun 1971 Gabungan Persatuan Penulis Nasional Malaysia (GAPENA) menggandeng beberapa institusi pemerintah di Malaysia mengadakan Hari Puisi Nasional sebagai upaya memajukan dan memperkasakan bahasa, sastera dan Kebudayaan Melayu serta melestarikan dan menyuburkan puisi-puisi tradisi serta puisi modern.
Hari Puisi Nasional ke-19 tahun 2013 di Malaysia diadakan pada 10-12 Mei di Negara Bagian Penang, (yang nama resmi nya adalah Negeri Pulau Pinang - red), wilayahnya mencakupi daratan (main land) dan pulau.
Hari Puisi Nasional ke-19 tahun 2013 di Malaysia diadakan pada 10-12 Mei di Negara Bagian Penang, (yang nama resmi nya adalah Negeri Pulau Pinang - red), wilayahnya mencakupi daratan (main land) dan pulau.
Acara ini dihadiri oleh sastrawan/penyair yang datang dari seluruh Negeri yang ada di Malaysia. Mereka adalah anggota dan pengurus persatuan penulis dari setiap negeri di Malaysia karena persatuan/organisasi yang terdaftar di Malaysia hanya beranggotakan WN Malaysia.
Saya sebagai anggota luar biasa ( disini disebut akhli bersekutu) dari Penama (Persatuan Penulis Melaka) dan Club Deklamator Gapena ikut hadir pada acara yang diadakan di pulau yang dihubungkan dengan jembatan yang termasuk salah satu jembatan terpanjang di dunia.
Pada tanggal 10 Mei 2013 dengan mengambil tempat di hotel Vistana, Hari Puisi Nasional diresmikan oleh Tuan Yang Terutama Tun Dato’ Seri Utama (Dr.) Haji Abdul Rahman bin Haji Abbas, Yang Di-Pertua Negeri Pulau Pinang.
Acara diisi dengan pembacaan Puisi yang diantaranya disampaikan oleh SN Dato Kemala serta dimeriahkan dengan persembahan kesenian Melayu berupa tari-tarian dan lagu Melayu yang disampaikan oleh grup kesenian dari Medan Sumatra Utara Indonesia sambil menikmati hidangan Makan Malam.
Keesokan pagi pada tanggal 11 mei 2013 diadakan seminar, presentasi makalah dengan tema ‘Puisi Nasional dalam Era Pembangunan Negara’ dengan menghadirkan Tokoh-tokoh Sastrawan Malaysia yang juga akademisi diantaranya SN Dato’ DR. Haji Ahmad Kamal Abdullah (Dato Kemala) DR. Zurinah Hassan. Puan Hajah Mahaya Mohd Yassin dll.
Puncak acara dimeriahkan dengan Panggung Seni yang diadakan di Taman Kota pada malamnya dengan tema ‘Pengucapan Puisi Rumpun Melayu’, Dengan menyampaikan persembahan seni , Puisi, Syair, Gurindam dan kesenian Melayu lainnya yang dibawakan oleh penyair-penyair Malaysia dan sekali lagi grup kesenian Melayu yang diundang dari Medan Sumatra Utara Indonesia memeriahkan acara ini dengan mempersembahkan lagu-lagu Melayu serta tarian Melayu.
Pada acara ini yang sangat berkesan dan sangat membahagiakan sekali bagi saya, saat saya diberi kesempatan untuk membacakan puisi karya saya yang berjudul "Minangkabau Malaysia", yang saya tulis setelah saya mengunjungi Jelebu Negeri Sembilan dan dimuat dalam kitab Antologi Puisi ‘Cinta Gugat’ bersama Penyair2 Indonesia yang diterbitkan oleh Sastra Reboan, Komunitas Sastra di Indonesia. (Lily/AB)
di muat di AntaraKL.com
Saya sebagai anggota luar biasa ( disini disebut akhli bersekutu) dari Penama (Persatuan Penulis Melaka) dan Club Deklamator Gapena ikut hadir pada acara yang diadakan di pulau yang dihubungkan dengan jembatan yang termasuk salah satu jembatan terpanjang di dunia.
Pada tanggal 10 Mei 2013 dengan mengambil tempat di hotel Vistana, Hari Puisi Nasional diresmikan oleh Tuan Yang Terutama Tun Dato’ Seri Utama (Dr.) Haji Abdul Rahman bin Haji Abbas, Yang Di-Pertua Negeri Pulau Pinang.
Acara diisi dengan pembacaan Puisi yang diantaranya disampaikan oleh SN Dato Kemala serta dimeriahkan dengan persembahan kesenian Melayu berupa tari-tarian dan lagu Melayu yang disampaikan oleh grup kesenian dari Medan Sumatra Utara Indonesia sambil menikmati hidangan Makan Malam.
Keesokan pagi pada tanggal 11 mei 2013 diadakan seminar, presentasi makalah dengan tema ‘Puisi Nasional dalam Era Pembangunan Negara’ dengan menghadirkan Tokoh-tokoh Sastrawan Malaysia yang juga akademisi diantaranya SN Dato’ DR. Haji Ahmad Kamal Abdullah (Dato Kemala) DR. Zurinah Hassan. Puan Hajah Mahaya Mohd Yassin dll.
Puncak acara dimeriahkan dengan Panggung Seni yang diadakan di Taman Kota pada malamnya dengan tema ‘Pengucapan Puisi Rumpun Melayu’, Dengan menyampaikan persembahan seni , Puisi, Syair, Gurindam dan kesenian Melayu lainnya yang dibawakan oleh penyair-penyair Malaysia dan sekali lagi grup kesenian Melayu yang diundang dari Medan Sumatra Utara Indonesia memeriahkan acara ini dengan mempersembahkan lagu-lagu Melayu serta tarian Melayu.
Pada acara ini yang sangat berkesan dan sangat membahagiakan sekali bagi saya, saat saya diberi kesempatan untuk membacakan puisi karya saya yang berjudul "Minangkabau Malaysia", yang saya tulis setelah saya mengunjungi Jelebu Negeri Sembilan dan dimuat dalam kitab Antologi Puisi ‘Cinta Gugat’ bersama Penyair2 Indonesia yang diterbitkan oleh Sastra Reboan, Komunitas Sastra di Indonesia. (Lily/AB)
di muat di AntaraKL.com
my other blog : http://www.writerscafe.org/writing/LilySiti/1209035/
Wednesday, 20 February 2013
Minangkabau di Malaysia
Tulisan ini dimuat di majalah "Titian" edisi 155 Desember 2012- Januari 2013 terbit di Jakarta.
Minangkabau di Negeri
Sembilan Malaysia
Oleh:*Dra. Lily Siti
Multatuliana, M.A.
Wilayah Minangkabau, awalnya secara geografis
meliputi: provinsi Sumatra Barat sekarang, separuh daratan Riau, bagian utara
Bengkulu, bagian barat Jambi, bagian selatan Sumatera Utara, barat daya Aceh,
dan Negeri Sembilan, Malaysia. Minangkabau bukan merupakan suatu kerajaan.
Tetapi, lebih mengandung pengertian kebudayaan, di samping makna geografis dan
etnis. Ia merupakan suku bangsa yang unik di Indonesia, di mana masyarakatnya
menganut system kekerabatan matrilineal. (dipetik dari buku: MINANGKABAU karya
Amir Sjarifoedin Tj.A, penerbit PT Gria Media Prima Jakarta 2011)
Jadi Minangkabau adalah etnis di Nusantara (yang disebut Nusantara adalah Indonesia, Malaysia, Singapore, Thailand Selatan, Brunei Darussalam dan Pilipina Selatan) yang berbahasa dan menjunjung adat Minangkabau. Wilayah yang mengamalkan budaya Minangkabau meliputi Sumatra Barat, sebagian Riau, utara Bengkulu, bagian barat Jambi dan pantai barat Aceh dan Negeri Sembilan Malaysia.
Jadi Minangkabau adalah etnis di Nusantara (yang disebut Nusantara adalah Indonesia, Malaysia, Singapore, Thailand Selatan, Brunei Darussalam dan Pilipina Selatan) yang berbahasa dan menjunjung adat Minangkabau. Wilayah yang mengamalkan budaya Minangkabau meliputi Sumatra Barat, sebagian Riau, utara Bengkulu, bagian barat Jambi dan pantai barat Aceh dan Negeri Sembilan Malaysia.
Beberapa waktu lalu saya mengadakan perjalanan
ke Kuala Kelawang yang berlokasi di daerah Jelebu, salah satu daerah di Negeri
Sembilan. Lokasinya sekitar 100km dari Melaka, dimana saya menetap. Perjalanan
lewat tol selama satu jam hanya sampai Seremban, ibu kota Negeri Sembilan. Kota
yang beberapa bangunan kantor
pemerintahannya berbentuk bagonjong (bangunan khas Minangkabau yang berbentuk
tanduk kerbau) ini memiliki museum
yang bangunan dengan atap bagonjong pula.
Selanjutnya dari Seremban menuju Jelebu
melewati jalan biasa. Pada mulanya jalan yang dilalui agak
lebar (4jalur), belakangan hanya dua jalur dan berkelok-kelok, mendaki dan
menurun tetapi tetap nyaman dan tak melelahkan karena infrastruktur jalan
menuju Kuala Klawang, lokasi Musium Adat berada sangat memadai dan
sempurna. Sebelah kiri dan kanan jalan nampak perbukitan yang ditumbuhi
ponon2 besar yang menghijau yang nampak seperti hutan. Dengan jalan yang
berkelok2 ini mengingatkan saya jalan di Puncak Jawa Barat Indonesia
yaitu daerah pegunungan yang jalan nya berkelok-kelok serta di kiri kanan jalan
pohon teh yang menghijau, walau infrastrukturnya berbeda.
Sampai di Kuala Klawang salah satu bandar/kota besar di Jelebu
kita makan siang di restoran yang sederhana dan menyediakan masakan padang
secara buffee n self service. Masakan
yang tersaji nampak masakan yang kental dengan santan seperti “Rendang” ,
“Gulei Ayam”, “Gulei Kambing”, “Gulei Ikan ” serta ”Gulei Pucuk
Paranciah” (daun singkong) dll. Dengan perasaan was was takut cholesterol naik
lagi terpaksa makan juga disini karena tak terlihat restauran lain disekitarnya. Hampir semua
makanan saya cicipi dengan porsi yang sedikit. Yang sangat berkesan
adalah ”Gulei Masin Ikan Tenggiri” yang berwarna kuning
merona. Padahal gulei ikan yang rasanya mirip sekali dengan yang sering
dibuat oleh almarhum mertua saya ini sudah hampir habis hanya tinggal
sisa2 potongan ikan kecil saja, tidak utuh lagi. Tetapi saya keukeuh mengambilnya
dan Alhamdulillah ada seporsi piring kecil. Rasanya amboi…terasa masakan dari
air tangan orang minang yang tak terpengaruh selera melayu.lapeh salero
rasanya
.
Selesai makan terdengar bunyi azan memanggil. Kita sholat Zuhur di
masjid yang lokasinya diatas bukit yang bisa dilalui mobil. Setelah sholat
melihat pemandangan ke bawah amboi… indahnya, dan nampak menyembul bangunan
Rumah Bagonjong diantara kehijauan alam, wow serasa sudah berada di kampuang
den nan jauh dimato deh…
Selanjutnya kita ke Musium Adat yang bangunan
nya merupakan gedung tiga lantai dan dilengkapi dengan peralatan audio visual
yang canggih. Di halaman gedung ada
panggung yang beratapkan khas minangkabau, atap Bagonjong.
Di lantai dasar, dipamerkan benda-benda yang
menarik yang menampilkan pengenalan dan kosep adat di Malaysia. Meliputi
sejarah awal tercetusnya adat terbesar di Alam Melayu iaitu Adat Perpatih dan
Adat Temenggung. Dipamerkan juga replica Batu Batikam dan Batu Baling yang
menurut kisahnya Batu Batikam berada di Dusun Tua Luak Nagari Lima Kaum dan
Batu Baling kewujudan nya berada di Sungai Tarap Tanah Minangkabau, Sumatra
Barat. Menurut kisah yang diceritakan secara turun temurun. Datuk
Ketemanggungan telah menyentakkan kerisnya ke sebuah batu dan Datuk Perpatih
nan Sabatang menikamkan kerisnya kepada sebuah batu sehingga tembus. Hal ini
menandakan perdamaian dan pemufakatan muktamad antara kedua dua pihak bagi
menghormati prinsip-prinsip kemasyarakatan.
Di lantai satu dan dua dipamerkan adat-adat yang berkaitan dengan
kitaran hidup manusia dari mulai saat kelahiran, perkawinan, kematian dan
kegiatan ekonomi serta amalan ritual yang ada di Malaysia serta memaparkan
tentang kegiatan intelektual dari perspektif istana dan rakyat biasa di
Malaysia.
Di lantai tiga
dipamerkan segmen khusus tentang adat perpatih secara historikal yang
bermula dari Sumatara (alam Minangkabau) sehingga bertapak di Negeri Sembilan.
Kedatangan para perantau minang dari Sumatra Barat, sudah sejak abad dua belas
kemudian berlakulah pernikahan antara perantau dari minang dengan penduduk
setempat dan keturunannya disebut suku Biduanda.
Yang kemudian pada
tahun 1773 anak raja Minangkabau dari Pagaruyung, Raja Melawar datang dan
dinobatkan sebagai raja Negeri Sembilan yang disebut Yamtuan Besar dan
ibukota diraja di Seri Menanti yang lokasinya di Kuala Pilah.
Tahun lalu saya pernah pula mengunjungi Bandar Seri Menanti
yang gerbang memasuki kota berbentuk Bagonjong. Di Bandar yang disini
disebut Bandar Diraja berdiri Istana Raja yang disebut Istana Seri Menanti.
Istana yang bangunan nya pernah dirusak
oleh Inggris dan dibangun kembali pada awal tahun 1900an yang menjadi kediaman resmi
Yang di-Pertuan Besar Negeri Sembilan. Kini bangunan yang terbuat dari kayu dan
tidak menggunakan paku itu di jadikan museum yang memaparkan keberadaan Raja
Melawar dan koleksi-koleksi keluarga Diraja tampa mengubah bentuk asal istana
dan diterangkan fungsi ruang-ruang tersebut.
Raja Negeri Sembilan hingga kini masih bertahta adalah keturunan
Raja Melawar. Di Malaysia disebut : Yang di-Pertuan Besar Negeri Sembilan yang
ke-11 beliau adalah Tuanku Muhriz ibni Almarhum Tuanku Munawir.
*) Lily Siti Multatuliana, berasal dari
kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Mengajar di sejumlah perguruan tinggi swasta di Jakarta dan di Melaka sedang mengadakan kajian Budaya
Nusantara. Menetap di Jakarta dan Melaka
Monday, 24 September 2012
Jejak Cheng Ho di Melaka
BEBERAPA tahun lalu mendengar berita tentang dirilisnya film drama kolosal yang dibintangi oleh dua orang mantan menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB), yakni Yusril Ihza Mahendra (berperan sebagai Laksamana Cheng Ho) dan Saifullah Yusuf (sebagai Raja Majapahit) dalam film Laksamana Cheng Ho, mengingatkan saya pada museum Cheng Ho di Semarang yang pernah saya kunjungi sewaktu saya masih mahasiswa, dan kabarnya sekarang museum Cheng Ho yang di Semarang ini lebih luas, lebih lengkap dan lebih indah.
tulisan ini pernah dimuat di tabloid parle (terbit di Jakarta) dan diedit kembali dan dimuat di Kompas.com
Di Malaka, terdapat Museum Cheng Ho yang sangat luas dan lengkap walau dari depan nampak seperti kecil saja dan lokasinya dekat dengan Jonker Walk, lokasi wisata di Malaysia yang pada hujung minggu di malam hari ada semacam pasar malam yang banyak dikunjungi oleh turis.
Museum Cheng Ho yang diyakini dulunya merupakan tempat laksamana yang beragama Islam ini menyimpan barang atau menjadikan gudang saat kapalnya melewati dan berlabuh di Kota Melaka.Hal ini diyakini dengan ditemukannya reruntuhan arsitektur dan barang barang peninggalan sejarah dari Dinasti Ming yang ada di dalam gedung yang sekarang dipamerkan kepada khalayak umum.Di antaranya bermacam-macam bentuk guci dari Dinasti Ming, gong dengan hiasan ular naga di tengahnya, khas kebudayaan China, yang konon digunakan sebagai salah satu alat komunikasi selain bendera, lentera, dan burung merpati.
Selain itu, benda-benda yang dipamerkan seperti patung Laksamana Cheng Ho saat kanak-kanak bersama teman dan kakeknya serta replika kapal layar lengkap dengan formasi kapalnya yang sangat banyak dan ada pula barang barang yang dihadiahkan oleh keturunan Cheng Ho di Yunan.
Museum Cheng Ho dibangun sebagai penghargaan kepada Laksamana Cheng Ho yang lahir pada tahun 1371 dengan nama Ma Ho (Ma singkatan dari Muhamad) di Provinsi Yunan dan ayahnya adalah seorang haji.Ketika berumur 10 tahun, dia ditangkap oleh tentara China yang menyerbu Yunan. Pada saat Ma Ho berusia 13 tahun, dia pernah dijadikan kasim (eunuch) dan pembantu rumah tangga anak keempat Kaisar Cina, Pangeran Zhu Di.
Setelah dewasa, Ma Ho menjadi orang yang terampil dalam ilmu perang dan diplomasi dan menjadi orang kepercayaan Pangeran Zhu Di. Pangeran Cina ini kemudian mengganti nama Ma Ho menjadi Cheng Ho, yang kemudian lebih melegenda hingga kini.Cheng Ho, yang mempunyai perawakan tinggi besar, memberikan kekuatan yang besar ketika Pangeran Zhu Di menjadi kaisar pada tahun 1402.
Setahun kemudian Cheng Ho diangkat menjadi Laksamana.Selanjutnya Laksamana Cheng Ho mengadakan tujuh kali perjalanan dan meninggalkan jejak sejarah hingga di Timur Tengah, Afrika, dan Asia Tenggara (1405-1433). Lima kali dalam perjalanannya itu beliau bersama rombongannya singgah di Malaka. Inilah yang membuat barang-barang peninggalan Laksamana Cheng Ho banyak terdapat di kota ini.
Pada Abad Pertengahan, beliau dipercaya membawa seorang anak Kaisar China, Putri Hang Li Po, untuk menikah dengan Sultan Melaka. Rombongan Putri Kaisar China ini terdiri dari seratusan anak menteri serta para pembantunya. Kelompok ini kemudian menikah dengan penduduk lokal di Melaka, yang kemudian menciptakan kebudayaan Baba Nyonya yang dikenal luas sekarang ini.
Benda-benda kebudayaan Baba Nyonya ini dipamerkan pula di Museum Cheng Ho yang lengkap ini.
tulisan ini pernah dimuat di tabloid parle (terbit di Jakarta) dan diedit kembali dan dimuat di Kompas.com
Tuesday, 18 September 2012
Minangkabau Malaysia
Jalanan kutempuh
berkelok
mendaki dan
menurun
Bukit sekeliling
menghijau dengan
pepohonan besar
tebing di beton agar
tidak longsor
Abad dua belas
te tuo ku kemari
dari Sumatra
dengan Perahu Jalur sederhana
berapa lama??
Tahun dua belas
ba duo ku kemari
dari Melaka
dengan auto sederhana
dua jam saja
Dato Moyang Salleh
menyambut
di Kuala Klawang
dijamu
dengan Pucuk Paranciah,
Randang, Gulei Masin Tenggiri
lapeh salero
Dari atas bukit
terdengar suara
surau berkubah
memanggil
Tunaikan wajibku padaMU
Dari atas bukit
alam terbentang
kehijuaan berhamparan
Atap Teratak Bagonjong menyembul
dimana kah aku berada??
di kampuang den nan jauh dimato ??
Ku hampiri jejak moyangku
yang telah datang dengan Perahu Jalur dan
Lancang Kuning
Tepak Sirih, Batu Batikam
Cerano, Dulang, Banta Gadang
Adat Batandang
itu miliku!!... katamu
oh yaaa??....
Jangan lupa kawan
Minangkabau ada di Negeri Sembilan Malaysia
Keturunan Raja Melawar masih Bertahta
di Singgasana
Tentu itu milik Minangkabau
Milik kita bersama
Nusantara Melayu Raya
Jelebu, Negeri Sembilan Malaysia
17 September 2012
Puisi ini dimuat di antologi Cinta Gugat
Saturday, 15 September 2012
Restoran Indonesia di KL : Bumbu Desa
Di Melaka ada beberapa restoran Indonesia dan tidak sebanyak di Kuala Lumpur, kadang-kadang rasa masakannya sudah dipengaruhi dengan rasa masakan Melayu. Tak seperti di Kuala Lumpur, nampaknya hal ini disebabkan karena selain Kuala Lumpur adalah kota besar dan banyak warga Indonesia ketimbang di Melaka.
Restoran masakan Indonesia, Bumbu Desa yang bertaraf premium ini mempunyai lima outlet di Kuala Lumpur dan sekitarnya yaitu di KLCC, Mid Valley, The Curve, Festival City di Setapak dan di Alamanda Putra Jaya.
Beberapa waktu yang lalu Ketika memasuki ruangan resto yang berada di the Curve, Mall di KL, kita disambut oleh waiter yang mengucapkan “wilujeng sumping” (selamat datang). wah terasa sekali aura sunda nya, kala itu waiternya pun banyak yang mengenakan busana Sunda, walaupun begitu saya jumpa masakan minang, masakan padang dari Sumatra Barat.
Lokasi resto ini berada sejajar dengan restaurant premium bertaraf International. Tentu harga di restaurant ini jauh lebih mahal ketimbang makanan di food court yang disini disebut Medan Selera. (makanan di food court di Malaysia relative tidak terlalu mahal)
Masakan disajikan ala buffee dan setengah matang jadi setelah kita memilih makanan yang kita sukai akan dimasak/digoreng atau dihangatkan terdahulu jadi makanan yang tersaji masih panas.
Pilihan saya waktu itu adalah ikan Nila yang disajikan ala ikan terbang yang biasanya kalau di Jakarta ikan gurame yang dimasak seperti itu. Tetapi jenis ikan air tawar yang rasanya gurih ini jarang ditemukan di pasaran di Kuala Lumpur. Masakan pilihan lain nya pepes ayam, tahu bacem, perkedel jagung dan perkedel kentang serta sayur bok coy dan tentunya lalaban (di Malay disebut ulam) tersedia dengan beberapa macam jenis sambal. Kemudian pilihan makanan kita di masak atau dipanaskan lagi. Dan kami menanti hidangan sambil apalagi kalau bukan foto2…
Subscribe to:
Posts (Atom)









